Langsung ke konten utama

Minimalism #4

Malam itu, aku terdiam di kamarku yang tidak terlalu besar. Keadaanku baik-baik saja, namun seperti ada yang tidak beres. Entah, aku belum menemukan jawabannya saat itu. Aku menimang-nimang kembali perjalanan yang menghantarkanku ke titik ini. Tidak ada yang keliru, semua tampak normal. Barang-barang di sekelilingku menyeret perhatianku, satu per satu kutatap mereka. Kemudian aku berfikir, keberadaan mereka seharusnya membuatku bahagia, tetapi aku merasakan hal yang berbeda. Aku tidak sesemangat dulu, ketika pertama kali aku menjumpainya. Seperti ada yang mengganjal, tetapi aku tidak bisa mengidentifikasinya.
Rasa penasaran ini tidak berhenti begitu saja. Sejak malam itu, aku menyelami google dengan membaca beberapa artikel, dan pengalaman orang-orang. Sekilas, aku sudah terbayang jawabannya. Namun, aku menahan diri untuk tidak terburu-buru karena ini perihal pilihan hidup. Aku tidak menuntut kalian untuk menyukai apa yang kupijaki, ataupun menjadi sama. Aku percaya setiap orang berhak atas kesenangan dan pilihan hidupnya. Meski berbeda, tidak ada yang perlu disudutkan, apalagi dijatuhkan. Semua baik pada porsinya masing-masing. Mari saling mengapresiasi.
Aku melihat minimalism sebagai sebuah penyelamatan. Suasana hati yang awalnya sesak, perlahan menjadi ringan. Aku melihat sebuah fenomena bahwasanya hal baru akan selalu berdatangan, tidak akan pernah berhenti. Begitulah siklusnya. Aku merasa seperti ditipu daya oleh barang-barang tersebut, yang pada akhirnya mereka tidak sebermakna dulu. Bahkan terkadang, tempat sampah menjadi singgasananya. Perlahan-lahan aku mulai menyaring mereka. Aku memangkas setengah lemariku, dan memberikan semua bukuku ke adik tingkatku. Tanpa bayaran, dan aku tidak merasa rugi sedikitpun. Namun, perlu waktu yang tidak sedikit untuk  berani menyingkirkan mereka. Ini tidak mudah, sungguh.
Ibuku tertegun kebingungan. Aku memakluminya, karena hal baru butuh adaptasi, bukan? Beberapa kali ibuku menanyakan apakah keputusan ini tepat. Ya, tentu. Aku telah memikirkannya berbulan-bulan. Aku mencoba untuk memaknai sebuah barang, dan memberikannya ruang. Aku belajar untuk tidak dikontrol oleh barang. Ini tidak mudah, perlu pendewasaan. Aku sedang berproses untuk itu, semoga dimudahkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bowling Tournament

The day I had been waiting for so long finally came. Playing bowling after doing teaching practice was a must. This arranged due to public holiday (Agong’s birthday). The most special one was playing bowling with the Top Management of PTSB. They might look old in terms of age but their spirit was not doubted. I was so excited yet nervous because this was my first time. I never did it before, but I had watched how the player played on television. Somehow it looked easy, but when I tried to play it, many troubles came. There were 7 teams and each team consisted of 4 people. My members’ team were Rudi, Haznah, and Puan Liz. It was difficult keeping the ball straight; I had to be focused all the time. Since I didn’t have breakfast, I easily lost the focus but I kept trying hard to get score so my team could be the winner. I did strike once, such a lucky person. As the time went by, finally the score came out. Unfortunately, my team couldn’t be on the top three. It was totally fine at ...

Perginya Hanya Satu Kali Saja, Sanggup?

Susah memang mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi. Perpisahan? Sesuatu yang selalu dibenci kedatangannya.  Aku sudah berjuang, aku sudah berusaha. Tetapi usahaku dimatamu tak pernah berarti apa-apa. Apakah aku harus menyalahkan diri sendiri? Kita berbeda dan memang tak harus berjalan beriringan. Perempuan mana yang sanggup bertahan ditengah-tengah pengabaian? Percuma kan apa yang aku perjuangkan ternyata itulah yang kamu abaikan. Aku lebih memilih mundur dan dengan ketidaksiapan aku tetap harus melepasmu.  Mencintai seseorang tidak membutuhkan alasan bukan? Karna ketika kamu mencintai, pikiran rasionalmu tidak kamu gunakan melainkan hati yang beperan. Karena logika selalu kalah dengan perasaan hati, itu yang aku alami. Kau mengacaukan hari-hariku, menggelapkan suasana hatiku. Namun, perlahan keburukan itu bisa aku atasi meskipun butuh waktu. Aku sudah mulai terbiasa tanpa kehadiranmu. Ketakutanku mulai muncul. Aku ingin menghindar tapi aku tak bisa ber...