Malam itu, aku terdiam di kamarku yang tidak terlalu besar. Keadaanku
baik-baik saja, namun seperti ada yang tidak beres. Entah, aku belum menemukan
jawabannya saat itu. Aku menimang-nimang kembali perjalanan yang menghantarkanku
ke titik ini. Tidak ada yang keliru, semua tampak normal. Barang-barang di
sekelilingku menyeret perhatianku, satu per satu kutatap mereka. Kemudian aku
berfikir, keberadaan mereka seharusnya membuatku bahagia, tetapi aku merasakan
hal yang berbeda. Aku tidak sesemangat dulu, ketika pertama kali aku menjumpainya.
Seperti ada yang mengganjal, tetapi aku tidak bisa mengidentifikasinya.
Rasa penasaran ini tidak berhenti begitu saja. Sejak malam itu,
aku menyelami google dengan membaca beberapa artikel, dan pengalaman
orang-orang. Sekilas, aku sudah terbayang jawabannya. Namun, aku menahan diri untuk
tidak terburu-buru karena ini perihal pilihan hidup. Aku tidak menuntut kalian
untuk menyukai apa yang kupijaki, ataupun menjadi sama. Aku percaya setiap
orang berhak atas kesenangan dan pilihan hidupnya. Meski berbeda, tidak ada
yang perlu disudutkan, apalagi dijatuhkan. Semua baik pada porsinya
masing-masing. Mari saling mengapresiasi.
Aku melihat minimalism sebagai sebuah penyelamatan. Suasana
hati yang awalnya sesak, perlahan menjadi ringan. Aku melihat sebuah fenomena
bahwasanya hal baru akan selalu berdatangan, tidak akan pernah berhenti.
Begitulah siklusnya. Aku merasa seperti ditipu daya oleh barang-barang
tersebut, yang pada akhirnya mereka tidak sebermakna dulu. Bahkan terkadang, tempat
sampah menjadi singgasananya. Perlahan-lahan aku mulai menyaring mereka. Aku
memangkas setengah lemariku, dan memberikan semua bukuku ke adik tingkatku. Tanpa
bayaran, dan aku tidak merasa rugi sedikitpun. Namun, perlu waktu yang tidak
sedikit untuk berani menyingkirkan
mereka. Ini tidak mudah, sungguh.
Ibuku tertegun kebingungan. Aku memakluminya, karena hal baru
butuh adaptasi, bukan? Beberapa kali ibuku menanyakan apakah keputusan ini
tepat. Ya, tentu. Aku telah memikirkannya berbulan-bulan. Aku mencoba untuk
memaknai sebuah barang, dan memberikannya ruang. Aku belajar untuk tidak
dikontrol oleh barang. Ini tidak mudah, perlu pendewasaan. Aku sedang berproses
untuk itu, semoga dimudahkan.

Komentar
Posting Komentar