Susah memang mengubah sesuatu yang
mungkin memang harus terjadi. Perpisahan? Sesuatu yang selalu dibenci
kedatangannya. Aku sudah berjuang, aku
sudah berusaha. Tetapi usahaku dimatamu tak pernah berarti apa-apa. Apakah aku
harus menyalahkan diri sendiri?
Kita berbeda dan memang tak harus
berjalan beriringan. Perempuan mana yang sanggup bertahan ditengah-tengah
pengabaian? Percuma kan apa yang aku perjuangkan ternyata itulah yang kamu abaikan.
Aku lebih memilih mundur dan dengan ketidaksiapan aku tetap harus
melepasmu. Mencintai seseorang tidak
membutuhkan alasan bukan? Karna ketika kamu mencintai, pikiran rasionalmu tidak
kamu gunakan melainkan hati yang beperan. Karena logika selalu kalah dengan
perasaan hati, itu yang aku alami.
Kau mengacaukan hari-hariku,
menggelapkan suasana hatiku. Namun, perlahan keburukan itu bisa aku atasi
meskipun butuh waktu. Aku sudah mulai terbiasa tanpa kehadiranmu. Ketakutanku
mulai muncul. Aku ingin menghindar tapi aku tak bisa berbuat apa. Aku mencoba
tak merespon tapi aku tak sanggup. Aku masih merindukanmu berharap kamu datang
menghampiriku dan menata kembali semua mimpi itu dari awal. Membayangkan hal
indah bersamamu, membahyangkan akhir yang bahagia. Ternyata kamu datang,
memperhatikanku, mengucap rindu. Aku bahagia, sangat bahagia. Aku begitu bahagia kamu ada di sampingku,
menggenggam jemariku. Sosokmu
kembali menghiasi hari-hariku. Membuka lembaran baru, mengukir kenangan. Tak
bertahan lama, tanpa status yang jelas dan tanpa alasan yang pasti kamu
menghilang. Tak menghubungiku, tak mengabariku, tak memperdulikan pesan
singkatku. Sakit begitu sesak.
Aku memutuskan untuk bergerak
menjauhimu, lagi lagi perpisahan selalu datang menghampiri. Hai kamu, pria
egois yang selalu memikirkan dirimu sendiri. Coba gunakan perasaanmu! Coba
kendalikan pikiranmu! Datang kemudian pergi seenaknya. Aku bukan tempat
persinggahan. Aku bukan boneka yang bisa kau jadikan mainan.
Pikiran dan hati terkadang tak bisa
berjalan beriringan. Dengan polosnya kamu datang kembali, menebar rindu, dan
mengucap maaf. Tapi aku tetap menyambutmu. Bukannya aku sudah memutuskan untuk
mengabaikanmu? Aku memang bodoh. Aku selalu percaya dengan ucapanmu. Entah
kenapa aku merasa kamu benar-benar berubah untuk memperbaiki kesalahanmu. Tapi
apa? Kamu pergi lagi untuk kesekian kalinya. Memang tidak ada dua hati yang
saling berjuang untuk tetap bersatu, hanya ada satu hati yang tetap berjuang
tapi akhirnya merelakan. Aku sudah berada dipuncak kejenuhan. Jenuh melihat
sikapmu. Sakit mendengar ucapanmu. Aku kasi deh kamu pergi dari hidupku.
Pergi-pergi aja ya gak usah balik-balik lagi, sanggup?
Setidaknya aku sempat mencintaimu dengan tulus
wahai pria egois...
Komentar
Posting Komentar