Langsung ke konten utama

Perginya Hanya Satu Kali Saja, Sanggup?

Susah memang mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi. Perpisahan? Sesuatu yang selalu dibenci kedatangannya.  Aku sudah berjuang, aku sudah berusaha. Tetapi usahaku dimatamu tak pernah berarti apa-apa. Apakah aku harus menyalahkan diri sendiri?

Kita berbeda dan memang tak harus berjalan beriringan. Perempuan mana yang sanggup bertahan ditengah-tengah pengabaian? Percuma kan apa yang aku perjuangkan ternyata itulah yang kamu abaikan. Aku lebih memilih mundur dan dengan ketidaksiapan aku tetap harus melepasmu.  Mencintai seseorang tidak membutuhkan alasan bukan? Karna ketika kamu mencintai, pikiran rasionalmu tidak kamu gunakan melainkan hati yang beperan. Karena logika selalu kalah dengan perasaan hati, itu yang aku alami.

Kau mengacaukan hari-hariku, menggelapkan suasana hatiku. Namun, perlahan keburukan itu bisa aku atasi meskipun butuh waktu. Aku sudah mulai terbiasa tanpa kehadiranmu. Ketakutanku mulai muncul. Aku ingin menghindar tapi aku tak bisa berbuat apa. Aku mencoba tak merespon tapi aku tak sanggup. Aku masih merindukanmu berharap kamu datang menghampiriku dan menata kembali semua mimpi itu dari awal. Membayangkan hal indah bersamamu, membahyangkan akhir yang bahagia. Ternyata kamu datang, memperhatikanku, mengucap rindu. Aku bahagia, sangat bahagia. Aku begitu bahagia kamu ada di sampingku, menggenggam jemariku. Sosokmu kembali menghiasi hari-hariku. Membuka lembaran baru, mengukir kenangan. Tak bertahan lama, tanpa status yang jelas dan tanpa alasan yang pasti kamu menghilang. Tak menghubungiku, tak mengabariku, tak memperdulikan pesan singkatku. Sakit begitu sesak.

Aku memutuskan untuk bergerak menjauhimu, lagi lagi perpisahan selalu datang menghampiri. Hai kamu, pria egois yang selalu memikirkan dirimu sendiri. Coba gunakan perasaanmu! Coba kendalikan pikiranmu! Datang kemudian pergi seenaknya. Aku bukan tempat persinggahan. Aku bukan boneka yang bisa kau jadikan mainan.

Pikiran dan hati terkadang tak bisa berjalan beriringan. Dengan polosnya kamu datang kembali, menebar rindu, dan mengucap maaf. Tapi aku tetap menyambutmu. Bukannya aku sudah memutuskan untuk mengabaikanmu? Aku memang bodoh. Aku selalu percaya dengan ucapanmu. Entah kenapa aku merasa kamu benar-benar berubah untuk memperbaiki kesalahanmu. Tapi apa? Kamu pergi lagi untuk kesekian kalinya. Memang tidak ada dua hati yang saling berjuang untuk tetap bersatu, hanya ada satu hati yang tetap berjuang tapi akhirnya merelakan. Aku sudah berada dipuncak kejenuhan. Jenuh melihat sikapmu. Sakit mendengar ucapanmu. Aku kasi deh kamu pergi dari hidupku. Pergi-pergi aja ya gak usah balik-balik lagi, sanggup?

                                        Setidaknya aku sempat mencintaimu dengan tulus wahai pria egois...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bowling Tournament

The day I had been waiting for so long finally came. Playing bowling after doing teaching practice was a must. This arranged due to public holiday (Agong’s birthday). The most special one was playing bowling with the Top Management of PTSB. They might look old in terms of age but their spirit was not doubted. I was so excited yet nervous because this was my first time. I never did it before, but I had watched how the player played on television. Somehow it looked easy, but when I tried to play it, many troubles came. There were 7 teams and each team consisted of 4 people. My members’ team were Rudi, Haznah, and Puan Liz. It was difficult keeping the ball straight; I had to be focused all the time. Since I didn’t have breakfast, I easily lost the focus but I kept trying hard to get score so my team could be the winner. I did strike once, such a lucky person. As the time went by, finally the score came out. Unfortunately, my team couldn’t be on the top three. It was totally fine at ...

Minimalism #4

Malam itu, aku terdiam di kamarku yang tidak terlalu besar. Keadaanku baik-baik saja, namun seperti ada yang tidak beres. Entah, aku belum menemukan jawabannya saat itu. Aku menimang-nimang kembali perjalanan yang menghantarkanku ke titik ini. Tidak ada yang keliru, semua tampak normal. Barang-barang di sekelilingku menyeret perhatianku, satu per satu kutatap mereka. Kemudian aku berfikir, keberadaan mereka seharusnya membuatku bahagia, tetapi aku merasakan hal yang berbeda. Aku tidak sesemangat dulu, ketika pertama kali aku menjumpainya. Seperti ada yang mengganjal, tetapi aku tidak bisa mengidentifikasinya. Rasa penasaran ini tidak berhenti begitu saja. Sejak malam itu, aku menyelami google dengan membaca beberapa artikel, dan pengalaman orang-orang. Sekilas, aku sudah terbayang jawabannya. Namun, aku menahan diri untuk tidak terburu-buru karena ini perihal pilihan hidup. Aku tidak menuntut kalian untuk menyukai apa yang kupijaki, ataupun menjadi sama. Aku percaya setiap ora...