Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

A Letter to You

Untukmu, pria yang selalu mondar-mandir dikepalaku, memenuhi otakku, merusak konsentrasiku. Aku tidak tahu harus memulai dari mana karena kisah ini mengalir seadanya. Kisah yang tak tahu berawal dari mana, semua   terjadi atas dasar semesta. Tepat dua tahun lalu, aku mengucap kata di atas keraguan namun kini berpijak dengan rasa aman dan nyaman.   Ragu untuk mengikat karena luka lama masih terikat. Aku baru sadar, pelangi setelah badai menerjang memang benar adanya karena kehadiranmu. Sekarang sudah pukul 02.20 pagi dan otakku sudah beku namun perasaanku masih berkuasa. Aku menulis cerita ini tanpa basa-basi karena menyentuh bayangmu adalah hal yang mudah untukku. Tidak terasa sudah sampai di titik ini meski dua tahun bersama dalam jarak. Jarak yang tidak kenal lelah menjembatani hati bahkan mengoyak hingga emosi yang berkuasa di atas segalanya. Terima kasih masih bertahan dan tidak menuntut terlalu banyak. Itu saja. Sudah cukup memberi arti. Jika boleh memilih...

Perginya Hanya Satu Kali Saja, Sanggup?

Susah memang mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi. Perpisahan? Sesuatu yang selalu dibenci kedatangannya.  Aku sudah berjuang, aku sudah berusaha. Tetapi usahaku dimatamu tak pernah berarti apa-apa. Apakah aku harus menyalahkan diri sendiri? Kita berbeda dan memang tak harus berjalan beriringan. Perempuan mana yang sanggup bertahan ditengah-tengah pengabaian? Percuma kan apa yang aku perjuangkan ternyata itulah yang kamu abaikan. Aku lebih memilih mundur dan dengan ketidaksiapan aku tetap harus melepasmu.  Mencintai seseorang tidak membutuhkan alasan bukan? Karna ketika kamu mencintai, pikiran rasionalmu tidak kamu gunakan melainkan hati yang beperan. Karena logika selalu kalah dengan perasaan hati, itu yang aku alami. Kau mengacaukan hari-hariku, menggelapkan suasana hatiku. Namun, perlahan keburukan itu bisa aku atasi meskipun butuh waktu. Aku sudah mulai terbiasa tanpa kehadiranmu. Ketakutanku mulai muncul. Aku ingin menghindar tapi aku tak bisa ber...

Haters Itu Maunya Apa, Sih?

Jaman sekarang lagi heboh haters yang beraksi tanpa pandang bulu. Fokus memperhatikan ruang gerak, mengkritik detail apapun yang kita lakukan, dan akan bahagia jika kita sedang berada dizona paling menderita. Seluruh kegiatannya terfokus ke kita. Apa yang diinginkan?             Semakin tinggi suatu pohon semakin kuat angin yang bertiup. Bila kita berada di atas, ramai orang akan membenci kita. Entah cairan apa yang ada di otak haters sampai-sampai mau menghabiskan waktu dan tenaganya untuk men- judge orang lain. Ketika haters meledakkan kata-kata pedas ke orang yang dia benci mereka akan merasa puas dan nyengir-nyengir sendiri. Untuk apa sih kaya gitu? Untuk sekedar menghibur diri? Masih banyak ada cara yang lebih halal dan jauh dari dosa untuk mempersenang diri sendiri.             Ketahuilah ketika haters bergaya dengan aksinya, mencibir, menjelek-jelekan kita. Sa...

Si Dosen Penguji, Tembok Jarak dan Jembatan Waktu

Belakangan ini aku sering memikirkan jika kamu tidak ada disini lagi. Memikirkan ketika kamu sudah lulus. Terpisah oleh tembok jarak dan terhalang keras oleh jembatan waktu. Dua sekawan brengsek yang kusebut “dosen penguji”. Aku memperkirakan kemungkinan terburuk yang akan terjadi setelah kamu tidak disini, jarang disampingku, atau bahkan tak lagi disampingku. Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan aku? Kini kita memang masih menjadi kita. Gabungan dari kata aku dan kamu. Aku dan kamu menjadi kita. Bukan hanya aku atau kamu. Bagaimana jika nanti? Kamu akan jauh, entah berapa kilometer, entah berapa lama, dan entah sampai kapan. Bukankah semua orang akan pergi dan meninggalkan, kenapa kita harus takut pada perpisahan? Aku tak peduli seberapa benarnya pernyataan itu, yang sekarang aku hadapi hanya rasa gelisah yang tak berujung. Ketahuilah walaupun aku berkata baik-baik saja, dibalik kata-kata baik itu tersimpan kebohongan yang tersusun rapih. Kamu tidak perlu khawatir, aku pandai...