Langsung ke konten utama

Haters Itu Maunya Apa, Sih?

Jaman sekarang lagi heboh haters yang beraksi tanpa pandang bulu. Fokus memperhatikan ruang gerak, mengkritik detail apapun yang kita lakukan, dan akan bahagia jika kita sedang berada dizona paling menderita. Seluruh kegiatannya terfokus ke kita. Apa yang diinginkan?

            Semakin tinggi suatu pohon semakin kuat angin yang bertiup. Bila kita berada di atas, ramai orang akan membenci kita. Entah cairan apa yang ada di otak haters sampai-sampai mau menghabiskan waktu dan tenaganya untuk men-judge orang lain. Ketika haters meledakkan kata-kata pedas ke orang yang dia benci mereka akan merasa puas dan nyengir-nyengir sendiri. Untuk apa sih kaya gitu? Untuk sekedar menghibur diri? Masih banyak ada cara yang lebih halal dan jauh dari dosa untuk mempersenang diri sendiri.

            Ketahuilah ketika haters bergaya dengan aksinya, mencibir, menjelek-jelekan kita. Sadar gak bahwa dia sebenarnya sedang menjelek-jelekan dirinya sendiri? Hanya saja prosesnya dalam kemasan yang berbeda. Sah-sah saja jika mengkritik jika diimbangi dengan karya dan bukti nyata yang positif. Kalau sudah banyak omong tanpa embel-embel pembuktian bahwa haters lebih baik dari kita. Memalukan,kan?

            Aksi haters tak perlu direaksi. Senyumin aja. Cukup dijadikan acuan untuk menjadi orang yang lebih lagi. Selain diri sendiri, haters-lah yang paham dengan kekurangan kita. Tidak perlu merasa down. Disyukuri saja. Didoakan agar cepet sadar dan kembali ke jalan yang benar. Untuk apa memperdulikan orang-orang yang tidak menghormati privasi orang lain dan selalu menjatuhkannya melalui cara apapun? Satu-satunya hal yang lebih menjengkelkan daripada orang yang suka menjelekan oranglain adalah orang yang cukup bodoh untuk mendengarkan mereka.

Berterima kasihlah kepada para pembencimu. Hargai dia yang membencimu, karena dia adalah penggemar yang telah menghabiskan waktunya hanya tuk melihat setiap kesalahanmu. Berkatnya itu semakin membuat kita sadar bahwa hidup kita jauh lebih menarik dari hidupnya. Didiamkan mulutnya dengan kesuksesan kita. Biarkan bibir mereka terkunci melihat keberhasilan kita. Orang bodoh akan slalu melakukan hal yang tidak penting, sedangkan orang berprestasi akan mengabaikan orang bodoh itu. Teruslah membenci dan aku akan tetap berkarya. Mari, berjuang!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bowling Tournament

The day I had been waiting for so long finally came. Playing bowling after doing teaching practice was a must. This arranged due to public holiday (Agong’s birthday). The most special one was playing bowling with the Top Management of PTSB. They might look old in terms of age but their spirit was not doubted. I was so excited yet nervous because this was my first time. I never did it before, but I had watched how the player played on television. Somehow it looked easy, but when I tried to play it, many troubles came. There were 7 teams and each team consisted of 4 people. My members’ team were Rudi, Haznah, and Puan Liz. It was difficult keeping the ball straight; I had to be focused all the time. Since I didn’t have breakfast, I easily lost the focus but I kept trying hard to get score so my team could be the winner. I did strike once, such a lucky person. As the time went by, finally the score came out. Unfortunately, my team couldn’t be on the top three. It was totally fine at ...

Perginya Hanya Satu Kali Saja, Sanggup?

Susah memang mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi. Perpisahan? Sesuatu yang selalu dibenci kedatangannya.  Aku sudah berjuang, aku sudah berusaha. Tetapi usahaku dimatamu tak pernah berarti apa-apa. Apakah aku harus menyalahkan diri sendiri? Kita berbeda dan memang tak harus berjalan beriringan. Perempuan mana yang sanggup bertahan ditengah-tengah pengabaian? Percuma kan apa yang aku perjuangkan ternyata itulah yang kamu abaikan. Aku lebih memilih mundur dan dengan ketidaksiapan aku tetap harus melepasmu.  Mencintai seseorang tidak membutuhkan alasan bukan? Karna ketika kamu mencintai, pikiran rasionalmu tidak kamu gunakan melainkan hati yang beperan. Karena logika selalu kalah dengan perasaan hati, itu yang aku alami. Kau mengacaukan hari-hariku, menggelapkan suasana hatiku. Namun, perlahan keburukan itu bisa aku atasi meskipun butuh waktu. Aku sudah mulai terbiasa tanpa kehadiranmu. Ketakutanku mulai muncul. Aku ingin menghindar tapi aku tak bisa ber...

Minimalism #4

Malam itu, aku terdiam di kamarku yang tidak terlalu besar. Keadaanku baik-baik saja, namun seperti ada yang tidak beres. Entah, aku belum menemukan jawabannya saat itu. Aku menimang-nimang kembali perjalanan yang menghantarkanku ke titik ini. Tidak ada yang keliru, semua tampak normal. Barang-barang di sekelilingku menyeret perhatianku, satu per satu kutatap mereka. Kemudian aku berfikir, keberadaan mereka seharusnya membuatku bahagia, tetapi aku merasakan hal yang berbeda. Aku tidak sesemangat dulu, ketika pertama kali aku menjumpainya. Seperti ada yang mengganjal, tetapi aku tidak bisa mengidentifikasinya. Rasa penasaran ini tidak berhenti begitu saja. Sejak malam itu, aku menyelami google dengan membaca beberapa artikel, dan pengalaman orang-orang. Sekilas, aku sudah terbayang jawabannya. Namun, aku menahan diri untuk tidak terburu-buru karena ini perihal pilihan hidup. Aku tidak menuntut kalian untuk menyukai apa yang kupijaki, ataupun menjadi sama. Aku percaya setiap ora...