Langsung ke konten utama

Si Dosen Penguji, Tembok Jarak dan Jembatan Waktu

Belakangan ini aku sering memikirkan jika kamu tidak ada disini lagi. Memikirkan ketika kamu sudah lulus. Terpisah oleh tembok jarak dan terhalang keras oleh jembatan waktu. Dua sekawan brengsek yang kusebut “dosen penguji”. Aku memperkirakan kemungkinan terburuk yang akan terjadi setelah kamu tidak disini, jarang disampingku, atau bahkan tak lagi disampingku. Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan aku?

Kini kita memang masih menjadi kita. Gabungan dari kata aku dan kamu. Aku dan kamu menjadi kita. Bukan hanya aku atau kamu. Bagaimana jika nanti? Kamu akan jauh, entah berapa kilometer, entah berapa lama, dan entah sampai kapan. Bukankah semua orang akan pergi dan meninggalkan, kenapa kita harus takut pada perpisahan? Aku tak peduli seberapa benarnya pernyataan itu, yang sekarang aku hadapi hanya rasa gelisah yang tak berujung. Ketahuilah walaupun aku berkata baik-baik saja, dibalik kata-kata baik itu tersimpan kebohongan yang tersusun rapih. Kamu tidak perlu khawatir, aku pandai berbohong, ahli menciptakan skenario hingga membuatmu tidak mengenali kecemasanku. Apa kamu tahu? Senyum yang ada hanya senyum kamuflase untuk menutupi segala rasa takut. Bahagia yang terlihat hanya bahagia sementara untuk membelakangi bara yang menyengat. Mungkin kamu sadar, tapi sudah tidak peduli. Terimakasi setidaknya kamu sadar. Itu sudah cukup memberi arti.

Aku tak paham, akhir-akhir ini gerak-gerikmu aneh, semacam ada yang disembunyikan. Aku tak tahu apa itu benar atau hanya perasaanku saja. Tapi sikapmu benar-benar berubah. Hati ini bisa menilai, hati ini peka. Perhatianmu memudar, bertemu pun jarang, hingga berkabar menjadi sesuatu yang langka. Aku merasa diabaikan. Ketakutanku membuncah hingga tidur subuh menjadi keseharianku. Aku menerka-nerka jawaban nyata yang sebenarnya. Aku takut. Aku takut kehilanganmu. Aku belum siap untuk itu, belum siap menjadi diri yang jauh darimu. Apakah ketakutanku menjadi ketakutanmu juga? Apakah kau memikirkan hal yang sama denganku?

Beberapa hari lagi, perpisahan akan terjadi. Aku tidak bisa mengelak, tidak bisa menghalangi, kamu harus berjuang keras demi mimpimu. Demi orang tuamu, demi keluargamu, demi universitas favoritmu. Memang nanti semua akan berubah, tak akan lagi sama. Tapi percayalah, aku jamin semuanya akan baik-baik saja. Aku janji akan berjuang mengurusi kita, hingga kamu balik kembali kesini, tempat ternyamanmu. Maafkan jika aku menjadi sosok  perindu berat, sosok penghayal berharap tiba-tiba kamu berada disampingku dengan senyum khasmu yang melengkungkan bibirmu, menatap dan melayangkan kecupan dikeningku. Aku pastikan itu akan terealisasikan saat kamu pulang nanti. Semoga yang pernah terjalin tak akan pernah putus. Dan semua yang akan terekam abadi hanyalah kenangan manis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bowling Tournament

The day I had been waiting for so long finally came. Playing bowling after doing teaching practice was a must. This arranged due to public holiday (Agong’s birthday). The most special one was playing bowling with the Top Management of PTSB. They might look old in terms of age but their spirit was not doubted. I was so excited yet nervous because this was my first time. I never did it before, but I had watched how the player played on television. Somehow it looked easy, but when I tried to play it, many troubles came. There were 7 teams and each team consisted of 4 people. My members’ team were Rudi, Haznah, and Puan Liz. It was difficult keeping the ball straight; I had to be focused all the time. Since I didn’t have breakfast, I easily lost the focus but I kept trying hard to get score so my team could be the winner. I did strike once, such a lucky person. As the time went by, finally the score came out. Unfortunately, my team couldn’t be on the top three. It was totally fine at ...

Perginya Hanya Satu Kali Saja, Sanggup?

Susah memang mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi. Perpisahan? Sesuatu yang selalu dibenci kedatangannya.  Aku sudah berjuang, aku sudah berusaha. Tetapi usahaku dimatamu tak pernah berarti apa-apa. Apakah aku harus menyalahkan diri sendiri? Kita berbeda dan memang tak harus berjalan beriringan. Perempuan mana yang sanggup bertahan ditengah-tengah pengabaian? Percuma kan apa yang aku perjuangkan ternyata itulah yang kamu abaikan. Aku lebih memilih mundur dan dengan ketidaksiapan aku tetap harus melepasmu.  Mencintai seseorang tidak membutuhkan alasan bukan? Karna ketika kamu mencintai, pikiran rasionalmu tidak kamu gunakan melainkan hati yang beperan. Karena logika selalu kalah dengan perasaan hati, itu yang aku alami. Kau mengacaukan hari-hariku, menggelapkan suasana hatiku. Namun, perlahan keburukan itu bisa aku atasi meskipun butuh waktu. Aku sudah mulai terbiasa tanpa kehadiranmu. Ketakutanku mulai muncul. Aku ingin menghindar tapi aku tak bisa ber...

Minimalism #4

Malam itu, aku terdiam di kamarku yang tidak terlalu besar. Keadaanku baik-baik saja, namun seperti ada yang tidak beres. Entah, aku belum menemukan jawabannya saat itu. Aku menimang-nimang kembali perjalanan yang menghantarkanku ke titik ini. Tidak ada yang keliru, semua tampak normal. Barang-barang di sekelilingku menyeret perhatianku, satu per satu kutatap mereka. Kemudian aku berfikir, keberadaan mereka seharusnya membuatku bahagia, tetapi aku merasakan hal yang berbeda. Aku tidak sesemangat dulu, ketika pertama kali aku menjumpainya. Seperti ada yang mengganjal, tetapi aku tidak bisa mengidentifikasinya. Rasa penasaran ini tidak berhenti begitu saja. Sejak malam itu, aku menyelami google dengan membaca beberapa artikel, dan pengalaman orang-orang. Sekilas, aku sudah terbayang jawabannya. Namun, aku menahan diri untuk tidak terburu-buru karena ini perihal pilihan hidup. Aku tidak menuntut kalian untuk menyukai apa yang kupijaki, ataupun menjadi sama. Aku percaya setiap ora...