Untukmu, pria yang selalu
mondar-mandir dikepalaku, memenuhi otakku, merusak konsentrasiku.
Aku
tidak tahu harus memulai dari mana karena kisah ini mengalir seadanya. Kisah
yang tak tahu berawal dari mana, semua
terjadi atas dasar semesta. Tepat dua tahun lalu, aku mengucap kata
di atas keraguan namun kini berpijak dengan rasa aman dan nyaman. Ragu untuk mengikat karena luka lama masih
terikat. Aku baru sadar, pelangi setelah badai menerjang memang benar adanya
karena kehadiranmu.
Sekarang
sudah pukul 02.20 pagi dan otakku sudah beku namun perasaanku masih berkuasa.
Aku menulis cerita ini tanpa basa-basi karena menyentuh bayangmu adalah hal
yang mudah untukku. Tidak terasa sudah sampai di titik ini meski dua tahun
bersama dalam jarak. Jarak yang tidak kenal lelah menjembatani hati bahkan
mengoyak hingga emosi yang berkuasa di atas segalanya. Terima kasih masih
bertahan dan tidak menuntut terlalu banyak. Itu saja. Sudah cukup memberi arti.
Jika
boleh memilih, aku harap kamu yang terakhir. Aku hanya bisa berharap namun
semesta tetap yang memegang kendali. Aku tidak pernah tahu kapan kisah ini akan
berakhir, bisa besok, lusa, atau satu bulan lagi. Setidaknya, aku bertahan dan
berjuang untuk orang yang tepat. Harapan sederhanaku, yang selalu kulontarkan, semoga aku
adalah wanita yang paling bahagia atas kelulusanmu nanti. Selamat datang di tahun kedua, dan sampai jumpa di tahun ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya.
Dariku, wanita yang biasa-biasa
saja, tetapi diperlakukan luar biasa olehmu.

Komentar
Posting Komentar