![]() |
| Senja mengantarkan, bukan menidurkan |
Tibalah aku di titik ini, tanpa penyesalan satupun, hanya rasa syukur
yang terus terucap menjelang tidur malamku. Aku selalu melihat ke belakang,
bukan hanya untuk menyesali aksi, tetapi mencoba untuk menggali apa yang sebenarnya
bisa dikasihi. Tentu jalan ini bukan kehendakku. Seratus persen aku yakini ini
bukan pilihanku. Marah meletup-letup tiada henti, berat mengawali hari yang
berputar begitu lamban, dan uring-uringan tak tentu arah. Rasanya ingin sekali
melangkah ke tempat yang aku sukai, hanya itu saja yang aku mau, tetapi sangat
sulit.
Aku tidak suka Bahasa Inggris.
Nilaiku di SMP dan SMA hanya sekedar rata-rata saja, tidak ada yang bisa
dibanggakan. Aku hanya ingat rumus-rumus layaknya matematika yang bikin aku
pusing harus menempatkannya dalam kondisi seperti apa. Aku mencoba belajar
semata-mata agar bisa menjawab soal-soal yang diberikan, agar nilaiku cukup,
itu saja. Tidak neko-neko untuk mendapatkan nilai bagus karena aku sadar aku
tidak menyukainya, sungguh. Tapi sekarang, aku bersamanya kurang lebih empat
tahun dan bukan dalam konteks coba-coba lagi. Aku disini atas dasar, entah
akupun juga tidak paham betul, yang aku tahu Tuhan maha membolak-balikkan hati
manusia, mungkin semesta menyetujinya meski aku menolak keras.
Aku tidak menikmati langkah demi
langkah yang kupijaki, sangat apatis. Mengeluh adalah sebuah kebiasaan dan pengandaian
adalah hal yang setiap hari aku bayangkan. Coba saja aku tidak disini, andai
saja aku bisa lolos, dan banyak khayalan lainnya yang aku tahu tidak akan
mungkin terjadi. Ya, betul. Aku hanya menghabiskan
waktuku untuk terus menyalahkan apa yang sudah terjadi tanpa banyak berbuat
aksi. Rasanya seperti terkurung disebuah ruang sempit sehingga aku tidak bisa
bergerak dengan leluasa. Ini seperti bukan aku yang hanya diam saja. Aku suka
bergerak, berbagi, dan berkontrubusi.
Lambat laun aku melempar egoku
jauh-jauh. Aku mencoba ikhlas dan mengambil langkah kecil yang tanpa kusadari menjadi
besar. Meski awalnya banyak karang yang menerpa, kini aku bisa perlahan-lahan
menaklukannya. Penyesalan berangsur-angsur menjadi sebuah harapan. Banyak anak
manusia yang sudah menjadi kawan baikku. Kita bercengkrama ria tentang fenomena
sekitar, aku berkesempatan melihatnya berproses dan aku berharap semoga
keberadaanku menjadikan mereka utuh sebagai seorang manusia. Bergegaslah. Tidak
ada perjalanan yang sia-sia jika terus bertekad untuk berbenah.

Every single step we have been chosen is one of HIS plan. Let it flows and let universe give the answers 🙃
BalasHapus