Langsung ke konten utama

Luncheon with DPCCE

Exchange Students from Undiksha, Bali, Indonesia

I was so happy getting a chance to meet Director General of Polytechnic and Community College Education (DPCCE) in Kementrian Pelajaran Malaysia (KPM). All of students exchange program were invited. From Kulim, the place where I stayed, to Kuala Lumpur took 6-7 hours. Inbound students of Polytechnic Tuanku Sultanah Bahiyah were on the same bus with Politeknik Tuanku Syed Sirajuddin. Along the road, I just sat on window seat while looking at the view and listening to the music. I cried sometimes because I would be leaving very soon and the time would stop the moments that I wanted more. My heart was heartbroken because the day was getting closer. Everything looked sad. I finally reached Kuala Lumpur after being mellow for hours. At night, I went to Petronas Twin Tower. It was so beautiful; such an epic city. In the morning, I woke up so hard because I arrived at hotel at 2 A.M but the show must go on. Before going to KPM, I had a perfect breakfast at Old Town White Coffee, Kuala Lumpur. When I arrived at KPM, the building was spectacular. It was such an honor to be there having a private lunch with the precious people. Looking at the others’ presentation of sharing best experience and best moments made me blessed because I felt the same. The long journey was worth it as I could meet new friends from Thailand, Indonesia, Philippine, and Brunei. The foods were so yummy; I got famous cakes in Malaysia, and the drink was perfect. After the event, we directly went back home taking 7 hours. 
Perfect Breakfast at Old Town White Coffee

In front of Kementerian Pelajaran Malaysia 

Fortuna - Septi - Tina




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bowling Tournament

The day I had been waiting for so long finally came. Playing bowling after doing teaching practice was a must. This arranged due to public holiday (Agong’s birthday). The most special one was playing bowling with the Top Management of PTSB. They might look old in terms of age but their spirit was not doubted. I was so excited yet nervous because this was my first time. I never did it before, but I had watched how the player played on television. Somehow it looked easy, but when I tried to play it, many troubles came. There were 7 teams and each team consisted of 4 people. My members’ team were Rudi, Haznah, and Puan Liz. It was difficult keeping the ball straight; I had to be focused all the time. Since I didn’t have breakfast, I easily lost the focus but I kept trying hard to get score so my team could be the winner. I did strike once, such a lucky person. As the time went by, finally the score came out. Unfortunately, my team couldn’t be on the top three. It was totally fine at ...

Perginya Hanya Satu Kali Saja, Sanggup?

Susah memang mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi. Perpisahan? Sesuatu yang selalu dibenci kedatangannya.  Aku sudah berjuang, aku sudah berusaha. Tetapi usahaku dimatamu tak pernah berarti apa-apa. Apakah aku harus menyalahkan diri sendiri? Kita berbeda dan memang tak harus berjalan beriringan. Perempuan mana yang sanggup bertahan ditengah-tengah pengabaian? Percuma kan apa yang aku perjuangkan ternyata itulah yang kamu abaikan. Aku lebih memilih mundur dan dengan ketidaksiapan aku tetap harus melepasmu.  Mencintai seseorang tidak membutuhkan alasan bukan? Karna ketika kamu mencintai, pikiran rasionalmu tidak kamu gunakan melainkan hati yang beperan. Karena logika selalu kalah dengan perasaan hati, itu yang aku alami. Kau mengacaukan hari-hariku, menggelapkan suasana hatiku. Namun, perlahan keburukan itu bisa aku atasi meskipun butuh waktu. Aku sudah mulai terbiasa tanpa kehadiranmu. Ketakutanku mulai muncul. Aku ingin menghindar tapi aku tak bisa ber...

Minimalism #4

Malam itu, aku terdiam di kamarku yang tidak terlalu besar. Keadaanku baik-baik saja, namun seperti ada yang tidak beres. Entah, aku belum menemukan jawabannya saat itu. Aku menimang-nimang kembali perjalanan yang menghantarkanku ke titik ini. Tidak ada yang keliru, semua tampak normal. Barang-barang di sekelilingku menyeret perhatianku, satu per satu kutatap mereka. Kemudian aku berfikir, keberadaan mereka seharusnya membuatku bahagia, tetapi aku merasakan hal yang berbeda. Aku tidak sesemangat dulu, ketika pertama kali aku menjumpainya. Seperti ada yang mengganjal, tetapi aku tidak bisa mengidentifikasinya. Rasa penasaran ini tidak berhenti begitu saja. Sejak malam itu, aku menyelami google dengan membaca beberapa artikel, dan pengalaman orang-orang. Sekilas, aku sudah terbayang jawabannya. Namun, aku menahan diri untuk tidak terburu-buru karena ini perihal pilihan hidup. Aku tidak menuntut kalian untuk menyukai apa yang kupijaki, ataupun menjadi sama. Aku percaya setiap ora...