Aku adalah orang yang sangat keras. Jiwaku
pemberontak. Tidak ada orang yang berani menghakimi, karena aku akan sangat
bengis, sekalipun orang tuaku yang melakukannya. Aku tidak begitu paham arti
kehidupan. Namun, aku merasa hidup jika semua permintaanku dikabulkan. Aku
pernah menjadi orang yang paling tidak bersyukur, yang selalu mengamuk jika
situasi tak sinkron, dan yang selalu menagih lebih meski keadaan tidak
menghendaki.
Hidup
bak labirin, memiliki sistem jalur yang rumit, berliku-liku, dan banyak jalan
yang buntu. Tak heran jika banyak manusia mengakali diri agar tetap merasa
hidup. Aku salah satunya. Ego ini selalu berkuasa diatas segalanya, tanpa
memandang perasaan. Amarahku meluap, teriakanku memekakkan telinga, bahkan
kerap kali mengutarakan kata tak pantas. Ini adalah caraku melampiaskan
perasaan ketika semesta tidak berpihak kepadaku dan ketika waktu terlalu cepat
berputar namun aku lamban bergerak. Aku rela menyayat hati orang yang kukasihi
untuk kebahagianku semata, bertahun-tahun lamanya, hingga satu kegelapan
mengoyak kelam sanubariku dan menamparku bahwa yang aku lakukan selama ini
adalah sebuah kesesatan.
Di
tahun 2018, tiga pamanku tidur dipangkuan Tuhan untuk selamanya. Tak ada lagi
senyuman hangat yang menyapaku ketika aku sempat mengunjunginya di kampung. Ya,
secepat itu, tanpa ada yang mengira dan tak ada yang mampu menebak. Seketika
waktu berhenti berputar dari porosnya. Semua orang menangis, ada yang
menunjukkan raut wajah penyesalan, ada yang merintih pilu, dan ada yang tidak
siap melepas. Kematian tidak bisa ditolak, kita hanya bisa mempersiapkannya
dengan waku yang tersisa. Aku terbujur kaku, melihat kematian begitu nyata
adanya. Aku terpukul atas perbuatanku selama ini yang tidak memanfaatkan waktu
dengan baik untuk mengasihi orang yang sesungguhnya aku sayang. Aku sudah
melewatkan banyak tahun untuk menjadi penguasa atas hatiku yang keras.
Aku menoleh ke lorong
masa lalu dan tersadar bahwa kematian adalah mutlak. Aku sangat beruntung
karena aku masih dikelilingi oleh orang tua dan dua saudara. Aku masih memiliki
waktu untuk membahagiakan mereka. Lucunya, semua orang mempertanyakan tingkahku
yang kini akupun senang atas apa yang telah aku perbuat. Sesekali aku tidak
mampu meredam emosi, dan itu wajar namun selebihnya aku selalu berusaha untuk
menempatkan kebahagian orang lain sebagai priorotasku. Bahkan ketika aku punya
lebih, entah aku mendapatkan uang atas jerih payah sendiri atau uang hasil
tabungan, aku selalu menyisihkan untuk mereka. Memang nominalnya tidak
seberapa, namun aku ingin sekali memberi dan rasanya sangat menyenangkan,
sungguh. Ketika berbagi aku tidak merasa kehilangan sepeserpun, bahkan aku
mendapatkan lebih, yaitu sebuah kepuasaan yang tak perlu adanya timbal balik.
Aku tidak ingin menyelami
rasa penyesalan begitu besar ketika aku ditinggal oleh orang-orang yang aku
sayang. Kegelapan ini membalikkan hidupku tiga ratus enam puluh derajat. Sisa
waktu yang berputar dengan sangat cepat akan kupergunakan dengan baik, membayar
perbuatan pahit sebelumnya. Kini, di tahun 2019, aku menemukan sebuah makna
hidup yang sudah terpatri dalam jiwaku. Makna hidup yang kuselami selama 20 tahun yang diawali dengan sebuah kesesatan dan kini kunikmati sebagai harapan. Harapan
hidup untuk sesama karena berbagi kehidupan membuat hidupku terasa lebih hidup.
Memberi tidak membuatku kehabisan materi, ini bukan pernyataan klise, namun aku
benar-benar merasakannya, sungguh. Dulu ketika aku menahan semua apa yang aku
punya, aku selalu merasa kurang.
Cerita
kelam mendorongku untuk menulis. Aku tidak pandai berkata-kata. Aku hanya sesosok
manusia yang sedang mencoba untuk mengutarakan rasa atas dasar kegelisahan yang
menerpa. Aku hanya ingin berbagi, dan mengingatkan bahwa kematian adalah
sesuatu yang harus dikehendaki, dan waktu yang akan menjemputnya, cepat atau
lambat. Masalah akan selalu timbul tanpa permisi dan perbedaan akan selalu menghantam
hubungan yang terjalin. Tetaplah menjadi satu rasa meski banyak kasus pelik
yang memancing emosi jiwa. Berbeda tak harus beringas, apalagi merampas karena
berbeda untuk saling merangkul, bukan saling memukul. Mari hidup untuk membuat
orang lain bahagia, karena memperkaya diri sendiri pasalnya hanya sekedar
menyimpan angan.
Komentar
Posting Komentar