Langsung ke konten utama

Mengasihi Keberadaanmu, Ibu

Teruntuk yang selalu ada disaat aku benar-benar butuh,
Apa kabar kamu? Apakah kamu kelelahan ketika melewati rentetan tragedi alur yang nyata dalam drama kehidupanmu?  Aku bisa menebak rasa lelahmu, karena kantung matamu terlihat jelas. Raut wajahmu yang semakin mengerut berusaha tersenyum menyembunyikan rasa lelahmu. Berjuang mati-matian demi sesosok jiwa anak manusia. Tapi, aku tahu kamu sosok yang kuat dan hebat, wanita super yang selalu ada dihatiku.
Ingat tidak saat kau memberikan perhatian-perhatian kecil yang menjelma menjadi rindu yang menggetarkan hatiku dengan luar biasa. Saat kau memanggilku dengan sebutan lucumu itu. Saat kau dengan rajinnya meminjamkan pundakmu saat kumengeluh dengan keadaan. Ketika pagi, kau menyapaku dengan hangatnya. Ketika siang, kau sekedar mengingatkanku untuk beristirahat. Ketika sore, kau selalu siap mendengar kicauan-kicauan dariku. Ketika malam, suara lembutmu mengantarkanku menuju dunia mimpi. Sungguh, aku berterima kasih dengan hadirnya dirimu. Tingkah lakumu yang lembut tapi tegas sangat mendidik. Aku menyukaimu, mengagumimu, dan mencintaimu selamanya hingga tak berujung.
            Kita sering berkhayal dan bermimpi bukan? Khayalan yang membuat kita tertawa lepas, berbagi tawa dan bahagia. Banyak kisah-kisah indah yang tak bisa kuekspresikan. Aku pernah membrontak. Aku sering menggelapkan hari-harimu. Terkadang aku mengabaikanmu demi sejuta kesibukanku. Sesekali aku menghiraukan perhatian kecilmu yang tentu akan menyiksamu. Aku tahu dibalik kekhawatiranmu terselip ribuan makna yang salah satunya agar aku menjadi anak hebat. Hebat disegala bidang seperti kamu. Sesederhana itukah perasaan seorang Ibu?
            Aku sudah terlalu banyak menyiksamu, menggubris perhatian kecilmu, dan mengacaukan hari-harimu. Aku hanya bisa mengucap doa. Setiap malam aku menyisipkan namamu ditiap bait doaku. Yang kuinginkan agar kamu selalu bersamaku seberapa nakalnya diriku. Maafkan semua atas tingkah laku kekanak-kanakanku. Sungguh, aku selalu memikirkanmu. Kamu  selalu  ada di kepalaku. Senyummu terus memenuhi labirin-labirin kosong di hatiku. Bayanganmu rajin mengacaukan sel-sel impuls di otakku. Sungguh, aku menyayangimu...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bowling Tournament

The day I had been waiting for so long finally came. Playing bowling after doing teaching practice was a must. This arranged due to public holiday (Agong’s birthday). The most special one was playing bowling with the Top Management of PTSB. They might look old in terms of age but their spirit was not doubted. I was so excited yet nervous because this was my first time. I never did it before, but I had watched how the player played on television. Somehow it looked easy, but when I tried to play it, many troubles came. There were 7 teams and each team consisted of 4 people. My members’ team were Rudi, Haznah, and Puan Liz. It was difficult keeping the ball straight; I had to be focused all the time. Since I didn’t have breakfast, I easily lost the focus but I kept trying hard to get score so my team could be the winner. I did strike once, such a lucky person. As the time went by, finally the score came out. Unfortunately, my team couldn’t be on the top three. It was totally fine at ...

Perginya Hanya Satu Kali Saja, Sanggup?

Susah memang mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi. Perpisahan? Sesuatu yang selalu dibenci kedatangannya.  Aku sudah berjuang, aku sudah berusaha. Tetapi usahaku dimatamu tak pernah berarti apa-apa. Apakah aku harus menyalahkan diri sendiri? Kita berbeda dan memang tak harus berjalan beriringan. Perempuan mana yang sanggup bertahan ditengah-tengah pengabaian? Percuma kan apa yang aku perjuangkan ternyata itulah yang kamu abaikan. Aku lebih memilih mundur dan dengan ketidaksiapan aku tetap harus melepasmu.  Mencintai seseorang tidak membutuhkan alasan bukan? Karna ketika kamu mencintai, pikiran rasionalmu tidak kamu gunakan melainkan hati yang beperan. Karena logika selalu kalah dengan perasaan hati, itu yang aku alami. Kau mengacaukan hari-hariku, menggelapkan suasana hatiku. Namun, perlahan keburukan itu bisa aku atasi meskipun butuh waktu. Aku sudah mulai terbiasa tanpa kehadiranmu. Ketakutanku mulai muncul. Aku ingin menghindar tapi aku tak bisa ber...

Minimalism #4

Malam itu, aku terdiam di kamarku yang tidak terlalu besar. Keadaanku baik-baik saja, namun seperti ada yang tidak beres. Entah, aku belum menemukan jawabannya saat itu. Aku menimang-nimang kembali perjalanan yang menghantarkanku ke titik ini. Tidak ada yang keliru, semua tampak normal. Barang-barang di sekelilingku menyeret perhatianku, satu per satu kutatap mereka. Kemudian aku berfikir, keberadaan mereka seharusnya membuatku bahagia, tetapi aku merasakan hal yang berbeda. Aku tidak sesemangat dulu, ketika pertama kali aku menjumpainya. Seperti ada yang mengganjal, tetapi aku tidak bisa mengidentifikasinya. Rasa penasaran ini tidak berhenti begitu saja. Sejak malam itu, aku menyelami google dengan membaca beberapa artikel, dan pengalaman orang-orang. Sekilas, aku sudah terbayang jawabannya. Namun, aku menahan diri untuk tidak terburu-buru karena ini perihal pilihan hidup. Aku tidak menuntut kalian untuk menyukai apa yang kupijaki, ataupun menjadi sama. Aku percaya setiap ora...